Apa yang Salah?

Sebuah cuplikan dari sebuah buku "Kompas Nusantara" Rosihan Arsyad

Bener juga kenapa seperti ini ya.?

Mari kita bedah isi dapur rakyat pada tahun 2026:

Gula yang Pahit: Konsumsi nasional terus meningkat, namun pabrik gula kita mayoritas adalah peninggalan kolonial Belanda dengan mesin tua yang tidak efisien.

Kita terpaksa mengimpor jutaan ton gula mentah dari Brasil dan Thailand.

Tempe Rasa Amerika: Tahu dan tempe adalah sumber protein paling demokratis bagi rakyat Indonesia. Namun, kenyataan pahitnya adalah 90% kedelai yang kita konsumsi berasal dari perkebunan mekanis di Midwest Amerika Serikat. Kedaulatan protein nabati kita sangat bergantung pada nilai tukar Rupiah terhadap Dolar dan kebijakan subsidi petani di Iowa.

Ironi Garam: Ini adalah lelucon paling tragis bagi negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Kita masih mengimpor garam industri dalam jumlah masif dari Australia karena teknologi petambak garam lokal kita masih mengandalkan matahari secara tradisional-kalah telak dibandingkan industri garam Australia yang mekanis dan berskala besar.

Kesimpulannya jelas: Kita adalah negara agraris yang kecanduan impor. Kita terlalu terobsesi menambal kebocoran di sektor beras, sementara kebocoran di sektor kedelai, gula, daging, dan bawang putih dibiarkan mengalir deras menguras devisa negara.

Oia apalagi ada perjajian tarif dagang dengan AS. Benar benar terjebak Indoensia.
Katanya negara agraris tapi ya itu impor kebutuahan pokok, katanya negara maritim tapi ya hasil laut juga impor.

Ini gimana ya?




Posting Komentar untuk "Apa yang Salah?"