Makna Kepuasan Dalam Rumah Tangga

. .
Membaca sebuah buletin yang diterbitkan oleh Rumahku Surgaku pikiran ini langsung terpikir " wah sepertinya ini harus diketahui para pasangan swami istri baik lama atapun baru."

Isinya sangat bagus sekali untuk dijadikan pelajaran. Penomena kejadian - kejadian khas dalam rumah tangga di bahas apik dalam buletin tersebut. Dan kemudian bagaimana sebetulnya makna kepuasan dalam rumah tangga itu bisa diraih.

Okehlah supaya tidak menjadi penasan para pembaca cacatan abdulrozak saya torehkan disini apa - apa yang disampaikan oleh buletin Rumahku Surgaku.



Makna Kepuasan Dalam Rumah Tangga


Gambaran Permasalahan Dalam Rumah Tangga

Layaknya berlayar dilautan, hidup berumah tangga tidak selamanya tenang, tentram dan berjalan mulus. Apabila pengemudinya kurang terampil mengatasi terjangan ombak, tenggelamnya biduk rumah tangga hanya tinggal menunggu waktu. Fenomena inilah yang kini banyak kita saksikan !

Sesungguhnya banyak hal yang menjadi pencetus "Ombak Masalah" dalam rumah tangga. Satu yang tidak bisa dikesampingkan adalah hadirnya rasa tidak puas terhadap pasangan. Ya, ketikpuasan. Adapun bentuknya bisa beraneka ragam. Ada yang tidak puas karena nafkah, pelayanan, perhatian atau kualitas ibadah pasangan yang tidak sesuai harapan. 
 Berawal dari rasa tidak puas inilah suami istri kerap terjebak dalam perselisihan, pertengkaran, bahkan berakhir dengan penceraian.

Maka sangat penting bagi kita untuk bertanya, " Apakah penyebab lahirnya ketidakpuasan dalam rumah tangga ini.?"
Dari pertanyaan tersebut setidaknya ada tiga peyebab utama, yaitu :

Pertama

Seiring berjalannya waktu, seseorang melihat watak asli pasangan yang tidak sesuai dengan keinginan. Boleh jadi sebelum menikah seorang suami melihat istrinya sangat santun dan penyabar. Namun setelah menikah yang dominan malah sikap emisional. Istripun demikian, dia melihat ada banyak sifat suami yang tidak dia sukai.

Kedua

Yang kedua adalah kesibukan, baik kesibukan suami atau istri ataupun kedua - duanya.
Kesibukan bisa menyita waktu, tenga dan pikiran. Kesibukan membuat kualitas pelayanan dan perhatian jadi tidak optimal. Misalnya, ketika istri banyak berkatifitas syari diluar rumah, alokasi waktu untuk suami pun menjadi berkurang.

Ketiga 

yang ketiga adalah pola dialog yang tidak sehat. 
Kondisi ini terjadi ketika salah satu pasangan tidak mampu mengkomunikasikan ketidakpuasan secara baik. Atau kedua - duanya cenderung tertutup. Apabila hal ini terjadi masalah akan berlarut - larut dan berpotensi menimbulkan masalah besar.


Makna Kepuasan Dalam Rumah Tangga Dalam Pandangan Islam

Dalam pandangn Islam, kepuasan tidak selalu datang dari pendapatan. Ada makna kepuasan yang derajatnya lebih tinggi yaitu saat seorang mampun memberikan yang terbaik kepada pasangannya. Kepuasan dalam islam bukan dengan mendapatakan akan tetapi dengan memberikan. " Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah," Demikian ungkapan sebuah hadist.

Maka, siapapun  yang rumah tangganya ingin bahagia dan ingin merasakan kepuasan, dia harus merubah  paradigma pemikiran, bahwa " kepuasan sesungguhnya adalah dengan memberi bukan menerima."

Sungguh tidak mudah untuk merubah paradigma berpikir seperti ini namun ingsa Alloh bisa. Kita memerlukan proses dan latihan berkesinambungan untuk mendapatkannya. Dan sebelum menuju kearah sana, ada dua hal yang harus ditanamkan dalam benak suami istri sebagai modal meraih kepuasan dan kebahagiaan dalam rumah tangga.

Pertama

Tanamkanlah keyakinan bahwa pasangan kita karuniakan bukan manusia sempurna. Dia bukan malaikat. Di antara kelbihannya, dia pasti memiliki kekurangan.


Kedua

Setelah menyadari ketidaksempurnaan pasangan, tumbuhkan keiklasan untuk memberikan yang terbaik dan menutupi kekurangannya.
Sesungguhnya perbuatan yang dilandasi keikhlasan niscaya akan mudah mendapatkan kepuasan. Maka penting bagi suami istri untuk bersikap lebih proaktif. Lakukan yang terbaik, penuhi hak - hak pasangan kita. Ingsa Alloh apa yang kita berikan akan sebanding dengan yang kita terima. Apabila kita proaktif, pasanganpun biasanya akan tergerak untuk berbuat yang sama. Jika sudah demikian, rumah tangga akan menjadi ajang fastabiqul khoirot, ajang berlomba dalam kebaikan, ajang untuk saling memberi dan melengkapi.
Ingsa Alloh.


Sumber :
Buletin RSQ Edisi 3

Subscribe to receive free email updates:

16 Responses to "Makna Kepuasan Dalam Rumah Tangga"

  1. Duh senang sekali mas adul sudah bisa merasakan bagaimana puasnya berumah tangga, jadi pengen juga deh, ahi hi hi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya mas cepet - cepet aja nikah mas. apalagi udah punya anak kecil yang lucu - lucu wah rame pokonya mas

      Hapus
    2. Bener banget apa kata mangs adul, eh udah ganti namanya jadi mangs abdul. kalo udah punya anak kecil yang masih lucu lucunya rumah jadi terasa ramai loh..

      Hapus
    3. bener kan. ia ganti dikit ah jadi abdul. hahahah
      manuju nama asli aja mas.

      Hapus
  2. Kalau Saya justru berfikir bahwa berumhtangga itu tidak bahagia,, salah satu hal yang membuat/menjadi pemicu tidak adanya kepuasan dalam rumah tangga biasanya muncul karena permasalahan ekonomi,,, memang sudut pandang seseorang akan berbeda - beda,bila dikaitkan dengan masalah kepuasan dalam berumah tangga yah tentuny pasti akan berbeda dong,,, tergantung dari tendensi/pola pikir dari individu yang menjalani rumah tangga itu sendiri...
    Salam super...

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas ahmad sudah menikah belum mas.?

      Pkonya maknyus mas. bagaimana dipelaminan. bagaimana ada anak kecil yang selalu tersenyum. bagaimana saat saling merasakan. pokonyamas jika poin kedua itu tuh mas berhasil mkanyus tuh mas.

      Hapus
    2. Maknyus deh pokoknya ya hehehe

      Hapus
    3. Pokonya mas Dzatmiko pahamlah. indahnya . :D

      Hapus
  3. Terimakasih kang artikelnya, bisa jadi bahan renungan buat saya yang masih baru dalam memimpin rumah tangga. bisa untuk motifasi dan pembelajaran juga nih kang

    BalasHapus
    Balasan
    1. ia mas sama - sama. ini juga saya catat karena manfaat buat saya.

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Jadi kalau sudah menikah malah lebih banyak masalah ya mas, karena sudah saling mengetahui keperibadian, watak, dan perilaku sebenarnya dari pasangan. Informasinya oke mas, bisa buat bekal buat saya yang masih jomblo... eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo masalah selama kita masih hidup akan terus ada mas. nah di atas itu adalah masalah yang biasanya dialami dalam khidupan rumah tangga termasuk solusinya.
      Mantap kan.

      Hapus
  6. lulus kuliah dlu kerja baru nikah :D,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Luluskan aja dulu mas kulishanya.

      Hapus