Gunung Sapu Angin Tanah Laut

Perjalanan AKAA (Aku Kamu dan Anak Anak) kali ini adalah menuju Gunung Sapu Angin.
Secara geografis Gunung Sapu Angin berada di kawasan Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan. Daerah dimana berbagai macam bukit gunung berada.

Perjalan AKAA kali ini dimulai pagi hari dalam rangka 17 Agustusan.  Kami mulai dengam berbagai persiapan seperti persiapan makanan,  minuman dan tentu saja bendera merah putih untuk dikibarkan dipuncak. Biar keren.

Seperti perjalan sebelumnya Menuju Gunung Teletubis kami berangkat menggunakan mobil kesayangan dan memang mobilnya cuman satu satunya. hehehe. Kami ber 4 bagaikan 4 petualang yang tangguh.

Perjalan menggunakan mobil kami tempuh dengan waktu tempuh sekitar 1.5 jam. Perjalan kami ini dipandu dengan google Maps hingga sampai dimana google maps ngaco. Harus belok tapi tidak ada belokan. Akhirnya kami bertanya. Sampai saat ini manusia masih lebih hebat dari google maps.

Akhirnya kami sampai dan menitipkan mobil kami dihalaman warga. Memang disitulah tempat parkirnya. Karena ada tulisan parkir mobil disini. Biaya Rp 15.000. Hanya itu saja biaya yang kami keluarkan tidak ada biaya masuk.

Setelah ngobrol sedikit dengan warga yang halamannya saya gunakan untuk parkir mengenai Gunung Sapu Angin yang akan kami daki, akhirnya kami siap - siap berangkat.

Makanan dan minuman dalam tas sudah siap, mental siap, tenaga siap. Saatnya melangkah.
Bismilahirrohamanirrohiim kami melangkah.

Awal perjalan dimulai dengan melewati perkebunan karet.


Pohon - pohon karet yang berjejer seolah pintu gerbang yang mebimbing kita menuju puncak. Suasana alam mulai terasa makin pekat. Angin yang berhembus manghamburkan daun - daun karet seolah gunung menyambut kita.

Semakin jauh kaki melangkah semakin terasa lutut menahan beban tubuh ini.
Tanjakan dan belokan mulai kami lalui satu persatu, hingga sampai juga pada tanjakan lumayan licin dan curam hingga untuk menaikinya disediakan tali untuk pegangan.


Perjalan bukan sampai disini, setelah melewati area inipun bukan berarti tanjakan habis justru sebaliknya tanjakan curam baru dimulai.

Meski demikian dibalik curamnya lereng yang kami lalui pemandangan indah mulai terlihat. Luasnya daratan Tanah Laut mulai terlihat.
Perasaan lega mulai datang. Subhanalloh Indahnya Ciptaan Alloh

 


Setelah inipun tanjakan bukan berarti habis, justru di jarak yang semakin dekat dengan puncaknya tanjakan makin poll. Lutut makin keras bekerja menahan beban tubuh ditambah dengan harusnya menggendong si bungsu yang takut berjalan karena curam, lutut yang mungkin ibarat mesin 2 tak seolah harus bekerja menggunakan mesin zet. Tapi semua itu terbayar, pemandangan semakin tampak indah dimata. Angin semakin kencang menabrak tubuh kita. rasa panas hilang di sapu angin yang sejuk kencang. Pantaslah dinamakan Gunung Sapu Angin karena anginnya kencang banget.

Selain menikmati perjalan yang ditemani angin kecaang sesekali ditemukan area yang lumayan datar tentu saja tidak lupa kami foto - foto lagi. Cekrek.







Tak lupa kamipun sambil mengibarkan bedera Merah Putih yang sudah kami bawa.
jangan bilang kecil ya. hehehe


Selang beberapa lama setelah kami mencoba meluruskan lutut, kami meneruskan menuju puncak. Akhirnya Alhamdulillah sampailah di puncak dimana terdapat tulisan Gunung Sapu Angin.

Mohon maaf ada yang tertutupi. hehehehe......

Rencananya kami akan melaksanakan solat duhur dan makan siang di puncak ini sehingga kamipun mencari cari tempat yang pas untuk semua itu. Namun setelah beberapa lama mencari tempat yang pas ternyata tidak memungkin untuk dilakukan dan akhirnya kami putuskan untuk turun gunung saja. Karena rencana kami itulah sehingga kami lupa mengambil foto foto yang bagus.

Setelah keputusan turun gunung diambil, kamipun segera menuruni gunung. Bismillahirrohmanirrohiim.

Menuruni gunung ternyata bukan hal yang mudah, bahkan kami bisa mengatakan menuruni gunung tidak lebih mudah dari menaikinya. Olehkarenanya lututpun ternyata bergetar lebih hebat ketika menuruninya. hahaha....

Pada sebagian turunan karena curamnya dan licinya oleh kerikil kami tidak berani berdiri. Prosotan saja...


Ditengah perjalanan turun, antara lelah dan lapar, ditempat yang agak datar dan rimbun kami menyantap makan yang rencananya di makan di punak. Setelah itu kami melanjutkan turun gunung. Alhamdulillah kami selamat.

Catatan kecil bagi kami : Meski turun tidak lebih mudah dari naik, namun turun lebih cepat dari naik.



Sekian kisah dari kami AKAA ( Aku Kamu dan Anak Anak) untuk perjalan kami menuju Gunung Sapu Angin....

Nantikan kisah kami selanjutnya di blog ini atau di Youtube kami AKAA Official Jangan lupa Subscribe ya...

Bagi yang penasan berikut peta lokasinya. Bagi yang mau saya anter bolehlah kontak saja saya. :D


12 Comments

  1. Wah lututnya saya bisa lemas dan gemetar nih
    Kenapa tidak dibuatkan anak tangga saja ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin belum mas. pengelolaan tempat nya masih alakadarnya. mungkin kalo swasta sudah masuk atau pemerintah daerah sudah mengurusnya. akan dibenahi

      Hapus
    2. Ayo viralkan biar tambah terkenal

      Hapus
  2. AKAA (Aku Kamu dan Anak Anak) .. hahay..
    nemu kata2 ginian dari mana mas.. mantul... hehe

    Wah.. matep nih explore alam dengan keluarga. banyak manfaatnya mas..
    sesekali ke gunung. biar g ke mall mulu.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. nemunya itu pas lagi Hiking menuju gunung teletabis mas. pokonya saya ulas tuntas di kisah itu mas.

      Maka dari itu mas kudu mulai cinta alam jgn mall terus. biayanya lebih murah. upsssss

      Hapus
  3. namanya boros ya mang, Gunung terus sapu, angin pula, tanah, laut juga

    BalasHapus
  4. asyik liburan sama keluarga lengkap seperti ini

    BalasHapus
  5. Harus hati-hati banget yak, terutama buat anak-anak, biar gak kepleset. Jadi masuknya gratis gituh? Cuma parkir mobil aja 15rb yak. Lokasinya mirip di Desa Penari gak Kang? Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. desa penari ya. kalo baca dan dengar kisahnya beda banget kang. penari serem inimah seru

      Hapus