Akan Seperti Apa Anak - Anak Kita Nanti ?

Sebuah kehawatiran bisa saja timbul ketika kita mengamati penomena yang terjadi saat ini. Atau bisa jadi tidak merasa hawatir karena memang bisa jadi kita sendiripun tidak menyadarinya. 
Mari coba saya keluarkan sedikit unek - unek yang menggelitik didada.

Saat ini kita tahu bawah dunia sedang dikuasai oleh suatu media yang anak - anak bisa dengan sangat bebas mengikutinya. Terlebih saat ini pembelajaranpun dilakukan jarak jauh dan secara virtual sehingga media elektronik berupa smartphone menjadi sangat kental pada anak. Ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Ada sisi baik tentu saja sangat berpeluang ada sisi jeleknya. 

Yang menjadi permasalahan saat ini adalah seberapa besar teknologi digunakan untuk sisi positif dan seberapa besar digunakan untuk sisi negatif. 
Tentu saja setiap orang pada zaman ini dalam penentuan positif negatif sangat beragam, orang akan bilang "tergantung dusut pandang ente". Tapi ada yang akan semua sama dan akan terus sama dari dulu sampai sekarang bahkan nanti sekalipun. Bahwa manusia atau kita ini pasti akan mati.

Pertanyaanya seberapa banyak orang saat ini yang mempersiapkan untuk bekal matinya nanti?

Yang sudah pasti kita tahu saat ini adalah hampir seluruh manusia menyiapkan diri untuk bekal hidupnya saja.

Menyiapkan tabungan untuk bikin rumah, untuk beli mobil. Mikirin untuk kredit HP, Kredit, Motor, kredit mobil.
Setiap bulan mikirin bayar cicilan motor, cicilan mobil, cicilan rumah, tagihan kartu kredit, mikirin waktu diskon. 
Dan tentu saja setiap bulan akhirnya mikirin bagaimana caranya punya penghasilan tambahan.

Ada yang mikirin apa yang sudah disiapkan untuk bekal kematian?

Mengapa dalam dalam judul tulisan "Akan Seperti Apa Anak - Anak Kita Nanti ?" pembukaanya seperti diatas.

Tujuannya tidak lain adalah supaya kita kembali sadar bahwa kita tidak selamanya akan ada didunia ini begitupun dengan anak - anak kita dan orang tua kita.
Kita semua akan mati. Maka dari itu sudah seberapa besar kita menyiapkan semua itu?

Pada zaman ini semua media seperti youtube, tiktok, instagram, facebook, whatapp dan lain - lain tentu saja bisa kita akses dengan mudah dari media elektronik yang kita miliki dan anak anak miliki yaitu smartphone.

Tentu saja kita sebagai orang tua tidak mudah mengarahkan anak - anak untuk mengkonsumsi tontonan dimedia tersebut, karena kebersamaan mereka dengan smartphonenya dibanding kebersamaan mereka dengan orang tua, orang tua kalah jam tayangnya. Orangtuanya sibuk cari uang buat bayar cicilan. Orangtuanya sibuk bikin konten tiktok, yutub, instagram. Apalagi ditambah dengan orangtuanyapun sama - sama sudah tidak memikirkan lagi bekal apa yang kelak akan dibawa mati. Sudah pasti akan sangat cenderung bablas.

Kita bisa lihat dimedia sosial yang tranding tidak jarang adalah vidio anak SD/SMP goyang tiktok, Anak SD goyang ngebor, Anak SD jual foto paha. Bahkan tidak sedikit anak kecil yang melakukan tindakan kekerasan.

Adanya komnas anak seolah hanya sebagai tanda saja jika ditanya apakah ada perlindungan untuk anak. Supaya jawabnya "ada tuh komnas anak".
Tapi nyatanya dimana perlindungan anak saat ini adanya?
Betul ada komnas anak tapi adakah sistem yang melindungai anak supaya tetap jadi anak yang berpikir dengan baik?

Atau justru pikiran baik buruk sudah tidak memiliki patokan lagi?
Sehingga anda berkata "tergantung sudut pandang ente."

Itulah mengapa diawal saya mengatakan bahwa ada yang sama pada semua diri kita ini, bahwa semua kita ini akan mati. Lalu seberapa banyak yang sudah kita persiapkan untuk mengahadapinya? Seberapa banyak mengingatkan anak - anak dan diri kita ini bahwa kita didunia ini tidak selamanya.

Jika tidak dikembalikan lagi pada semua itu, mau seperti apa kelak anak - anak kita jika sudah besar?

Yang jadi bikin makin miris perlindungan anak saat ini seolah - olah  membiarkan anak bebas, sebebas bebasnya. Dan menjadikan orangtua ketakukan pada anak. 
Kenapa demikian? 
Masih ingat? 
Adapun orang tua yang menegur anaknya malahan dimasukan dalam penjara. Guru yang membetulkan karakter anak didiknya malah di penjara, di pecat. Miris sungguh miris.

Disisi lain anak dicekoki dengan mental tiktok, dan seabreg vidio yang isinya melupakan bahwa kita akan mati, sehingga mereka bebas, sebebas - bebasnya. Tidak ada sama sekali yang melindungi anak dari yang disebarkan oleh media tersebut.

Apakah beneran ini yang kita kehendaki?

Apakah betul anak akan dibiarkan tumbuh semaunya sebagaimana tuntunan youtube, google, facebook, tiktok dan seabreg media yang saat ini banyak beredar?


Mari kita renungkan kawan. Masa depan kehidupan ini ada ditangan anak kita dan yang membentuk anak kita adalah masa ini. Kitalah orang tua salah satunya yang ada pada masa ini.

Berikanlah bekal kepada anak - anak kita kekuatan iman dan kesadaran akan arti kehidupan. Apa yang harus dilakukan dalam hidup ini supaya kita bisa menghadapi kematian kelak.
Ingatkan anak - anak kita bahwa kita tidak selamanya akan hidup. Kita akan mati dan akan mepertanggungjawabkan kehidupan yang kita jalani ini kelak.

Saatnyalah mendidik anak kita supaya menjadi anak yang tangguh baik secara fisik, mental, maupun pemikirannya.

Sekian catatan kecil ini semoga bisa bermanfaat. Aamiin

3 Comments

  1. Rasa cemas dan kawatir pasti ada pada setiap orang tua.
    Wal yang wajar.
    Yang penting kita sudah melakukan hal terbaik dan selanjutnya serahkan ke pas Tuhan YME
    Biar hati ini tidak mudah cemas. Yakin bahwa anak anak kita yang rumat Yang Maha Hidup.

    BalasHapus