Alhamdulillah setelah sekitar 6 tahun, kami kembali ke Bukit Sapu Angin. Jika dulu kami per empat, sekarang kami ber lima. Anggota keluarga kami bertambah. Alhamdulillah. Oia sebelumnya silahkan simak kisah kami sebelumnya di sini Bukit Sapu Angin Tanah Laut kisah kami di 2019.
Nah kali ini adalah tahun 2026 tepatnya di bulan juni waktu anak - anak sekolah libur dan saatnya kita mencoba liburan lagi.
Sudah lama banget tidak liburan.ha.ha...
Dan adapun jika liburan sudah tidak sempat lagi mencatatnya disini. Tapi tidak apalah kali ini coba kami catat kembali disini sebagai kenang - kenangan.
Kembali ke Bukit Sapu Angin
Awal Mula
Perjalan kali ini sejujurnya tidak begitu terencana hanya mendengar informasi seputar bukit sapu angin yang katanya sudah berubah dan viral kembali dikalangan anak muda. Mendengar informasi seperti itu posisi sedang liburan atau anak - anak sudah tidak belajar. Akhirnya kita rencanakan untuk berangkat.
Persiapan
Persiapan cepatpun dimulai. Mulai mencari kostum dan spatu. Ditemukanlah sepatu yang kurang lebih 6 tahun tidak digunakan. Tentu saja lem spatu sudah tidak rekat akhirnya diputusakn untuk tetap dipakai tapi di sol dulu.
Saya dan istri menggunakan spatu lama, anak saya yang laki - laki si Iqi menggunakan sepatu lama juga semuanya harus di sol dulu. hehehhe
Si Adel menggunakan sepatu sekolah dan satu lagi pemain baru Dira yang juga menggunakan sepatu sekolah.
Kostum lainnya, celana.
Maklum kami sudah jarang lagi ke gunung jadi tidak mungkin pakai daster. Celana 6 tahun dulu sudah beda ukuran. Tapi mending beda ukuran aslinya sudah tidak ada lagi. ha....ha....ha...
Akhirnya mencoba mencari celana untuk Adel, dira dan Istriku. Saya dan Iqi karena biasa celana panjang ada saja untuk celana.
Infomasi Cuaca
Sehari sebelum berangkat saya mencoba melihat perkiraan cuaca untuk area Gunung sapu angin. Perkiraan pagi hari pada tanggal keberangkatan cukup menghawatirkan. Info google potensi hujan disertai petir. Namun melihat rincian perjamnya pagi hari potensinya berawan hingga cerah berawan. Berikut tangkapan layarnya.
Pakaian extrapun akhirnya disiapkan. Set masuk tas.
Keberangkatan
Untuk keberangkatan kami rencanakan sebelum subuh. Kami rencanakan solat subuh dijalan saja, maksudnya dimasjid yang kami temukan saat perjalanan.
Namun dasar ada yang lupa karena waktunya masih subuh hari, awalnya kami mau meniru pakai vidio transisi gitu. Eh lupa buat, ingatnya sudah di gunung. haha....ahh..sudahlah....
Rencana berangkat 04.30 jadinya 04.50.
Setelah solat subuh, kami mampir dulu isi perut dengan nasi kuning dan teh hangat manis. Singkat kata jam tujuhan sampai ditempat tujuan.
Pas Awal Tiba
Kesan pertama kami pas datang dilokasi yang di tetapkan google maps. Wah memang beda sudah ada plangnya belok kiri dan mobil sudah bisa naik menuju area tertentu yang mungkin disebut pintu gerbang.
Jika dulu parkir diseberang jalan dan harus jalan dari jalan aspal, kini mobul bisa masuk lumayan mengurangi 1 tanjakan yang menggunakan lutut.
ha..ha...ha..
Rasanya kami masih belum mengelurkan kamera disini. Saya masih mikir - mikir ternyata sudah seperti ini tempatnya.
Minusnya jadi tidak ada dokumentasi.
Gerbang Masuk
Pas sampai gerbang mau masuk, sudah ada yang jaga tiket dan tempat parkir. Lumayan untuk mobil mungkin 3 atau 4 mobil masih cukup ya. Perlu penataan. Sepeda motor sudah banyak banget. Rata - rata pakai sepeda motor yang datang.
Dari sini saya mendapatkan data biaya masuk dan harga parkir mobil. Rinciannya sebagai berikut:
1. Biaya masuk Rp 20 Rb/Orang
2. Parkir mobil Rp 15 Rb/Mobil
Disini juga ternyata bisa sewa
1. Tenda
2. Tongkat
3. Senter kepala
4. Matras
5. Tempat air minum
6. Lampu petromak
Dan lain- lain masih banyak yang bisa disewa.
Setelah membayar dan memberikan informsai lengkap kami diberikan arahan terkait batasan gunung sapu angin dan area yang tidka boleh dilewati serta kontak yang bisa kami hubugi untuk bantuan.
Setelah itu kamipun langusng berangkat naik.
Perjalan Naik Bukit Sapu Angin
Nah disinilah dokumentasi mulai kami buka. Baru ngeh juga kenapa tidak dari tadi dikeluarkan. Tapi kerana sudah ada dokumentasi sekarang gambar - gambarlah yang akan banyak bercerita. he..he..
Pas awal naik. Lupa foto bersama di pintu gerbang maklum anak yang kecil si Dira terus aja naik jalan sendiri dengan semangat full.
Awal naik masih seger ya......keringat mulai datang...
Tutupan pohon masih sangat rapat ya. Phon masih tinggi sekali, angin belum terasa diarea ini.
Jalan berbatu dan tanah yang kalau hujan sedikit saja, lincinnya luar biasa.
Mulai dari sini sepertinya mulai manggah nih. Mulai stop -stop.
Sepanjangan trak pertama ini terasanya dingin dan tedung karena banyak pohon. Kuranya adalah pandangan yang pendek terhalang pohon - pohon.
Pandangan terasa mulai beda saat di ujung pagar itu. Sorotan cahanya agak beda kan lebih kuning...
Dari pintu pagar kayu itu pandangan mulai berbeda...
Nah berikut salah satu foto dari pagar kayu tersebut dan saya sendiri menyebutnya adalah "celah".
Ini karangan saya saja sih. Posisi itu adalah posisi celah melihat pandangan yang luas dimana mungkin 20-30 tahun lagi yang terlihat adalah gedung - gedung yang tinggi.
Selang bebrapa lama naik lagi dari posisi ini akan benar - benar keluar dari tutupan pohon yang lebat tersebut. Dan benar - benar seperti berada didunia yang berbeda.
Meski demikian angin yang menghembus menjadikan hangat matahari mendingin.
Dari posisi ini pejalan belum berakhir. Masih harus naik kembali supaya sampai pada puncak nya.
Trak yang kami lalui setelah ini bukan makin landai tapi justru dari sinilah meski sedikit traknya luar biasa miring banget.
Inilah moment dimana kami bertemu mathari foto - foto diatas belum tersentuh matahari. Maka setelah ini saat najak - najaknya matahari mualai menyentuh kami.
Niatnya buat foto estetik terkena cahaya matahari. ehhh kamera tidak mendukung jadilah seperti itu. Tidak apa - apa sudah ada usaha.
Nah dari posisi ini betul betul pertemuan kita dengan sang surya tidak ada yang megahalagi lagi. Hanya kekuatan fisik dan kekuatan karena melihat keindahan yang Maha kauasa yang bisa bertahan. Indah banget Subahanalloh.
Suasana Puncak Sapu Angin
Berikut dokumentasinya.
Tak terasa di puncak sudah hampir tangah hari seperti kami cukup puas dipuncak dan saatnya kembali.
Turun Dari Bukit Sapu Angin
Singkat katanya seperti ini menuruni gunung ternyata tidak lebih mudah dari menaikinya. Lutut bergetar gaes.
Dan yang kecil Dira minta gendong. emmmm
1 saja dokumentasinya yang lupa saat naik, yaitu foto di gerbang.
"""ceklek...."""






.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)












Posting Komentar untuk "Kembali ke Bukit Sapu Angin"