Liburan Ke Bromo Tanpa Open Trip Ala Kang Rozak

Perjalanan ini termasuk jalan ninja sih menurut saya. Soalnya belum pernah ke Jatim naik kendaraan umum apalagi ke Bromo. hahahha.... Berikut keseruan liburan tanpa open trip ke Bromo ala KangsRozak dan pasukan khusus. Ceritanya agak panjang tapi jangan hawatir semuanya akan seru...:D

Rencana Perjalan

Perjalanan ini memang agak panjang rencananya. Karena harus mengumpulkan semua pasukan dalam waktu libur yang sama dan dalah kondisi yang sehat lahir dan batin dan dompetnya. Dari awal memang hanya ada rasa ingin dan keterbatasan dana. Langsung saja ke pokoknya ya "dana". Dan ternyata dana minimpun bisa disiasati supaya kita bisa ke Bromo. Dalam rangka menyenangkan anak istri gaes...

Dengan dana yang terbatas maka rencanapun dibuat. Supaya efektif dan efisien kami susun sedemikian rupa.

Keberangkatan kami pangkas banyak sekali. Tiket pesawat kami coret paling awal dan kami ganti dengan liburan di atas kapal. :D. Kerenkan bahasanya. Ha..ha.ha...
Dan memang menjadi liburan yang sangat seru. Untuk mengenang keseruannya saya sudah coba tuliskan keseruannya pada postingan berikut ini Liburan di Atas Kapal. Seru banget.....!

Tentu Liburan ke Bromo Tanpa Open Trip ini tidak akan kalah serunya dibanding Liburan di Atas kapal. Simanagt terus Gaes....

Barang - barang yang kami bawapun tidak banyak, karena untuk penghematan tenaga dan keribetan barang yang dibawa saat diperjalanan. Baju - baju dan kebutuahn sehari - hari tidak banyak yang dibawah. Baju dan keperluan masing - masing hanya 1 tas saja dan apa saja yang dipakai. Pokoknya harus bisa merencanakan dengan baik.
Semua kami persiapkan, rencana rute perjalanan dari mana kemana dan naik apa saja menuju tujuan semua sudah kami catat.

Ok berikut kisahnya.

Perjalanan Ke Bromo Tanpa Open Trip

Perjalanan Dari Rumah Sampai Pelabuhan Trisakti

Perjalan dimulai pada pagi hari pukul 9.30.
Untuk penghematan dana, keberangkatan kami diantar saja sampai ke pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Singkat cerita setelah 3 jam akhirnya kami sampai. Kami datang lebih awal. Alhamdulillah.
Jujur saja kami memang belum pernah naik kapal segede ini dan tujuannya jauh. Jadi lumayan agak bingung masuknya dari mana dan cara cek innya seperti apa.

Akhirnya kami cari tempat cek in dan sedikit bertanya - tanya kemudian kami antri. Sebagai informasi, cek in bisa mandiri dan bisa melalui petugas. Setelah itu kita tunjukan kartas cek innya kepetugas dan akan dikasih gelang.

Setelah cek in dan menggunakan gelang seperti halnya mau naik pesawar masuk ruang tunggu.

Nah disini kita harus cek tiket yang sudah kita pesan itu kelas berapa. Misalkan kelas VIV, Kelas 1,2,3 dan harus lapor  atau cek ini lagi untuk mendapatkan haknya. Untuk mendapatkan nomor kamar, catatannya harus segera lapor atau cek in lagi, karena jika tidak segera lapor akan mendapatkan kamar sisa. Untuk VIV kalas 1,2 akan dikasih kunci dan akan ada uang jaminan kunci. Uang jaminan akan dikembalikan saat sampai ditempat tujuan.

Hal menarik bagi kami disini adalah, kami awalnya tidak tahu jika harus lapor atau cek in kembali untuk mendapatkan kamar. Kami hanya melihat antri dan ada ngasih uang, setelah itu saya bertanya dan tenyata harus cek in kamar. Tentu saja sayapun langsung cek in kamar. Tadinya kami minta supaya dikamar hanya ada kami saja atau naik kelas kamarnya untuk melindungi yang kecil dan istri tercinta, tapi ternyata tidak bisa, karena sudah full. Akhirnya kami terima saja fasilitas yang ada dan berdoa yang terbaik.

Setelah menunggu, akhirnya kami dipersilahkan masuk ke Kapal. Kapal yang kami gunakan adalah Kapal Dharma Kartika 2.

Nah seperti yang saya ceritakan diatas, Karena diatas kapal menjadi tempat liburan tersendiri yang seru, maka saya buatkan cerita keseruan tersendiri disini Liburan di Atas Kapal.

Dari Tanjung Perak Ke Bromo

Rencana perjalanan setelah kami turun dari kapal harusnya naik bus dari Pelabuhan Tanjung Perak, namun kami cari - cari terminal busnya tidak ada. Lumayan bingung loh mencari - cari. Kami buka tutup google maps dan melihat bentuk aslinya. Tapi tidak ada atau tidak menemukan terminal bus yang dicari.
Bahkan karena agak - agak panik tapi seru, catatan panduan pribadi kami dari Tanjung Perak ke Bromonya hilang di HP. hehhehe..... 

Karena tidak menemukan terminal BUS, akhirnya kami mencari alternatif lain. Carter mobil menuju Terminal Bungur Asih. Untung saja ada bapak angkot dan baik juga si Bapaknya. Setelah tawar menawar harga, akhirnya deal 20 rb/orang. Sebetulnya berdasarkan panduan yang hilang kami, jika naik bus infonya cuman 5 rb saja per orang. Tapi entah dimana terminal Busnya kami tidak menemukannya. Yang tahu boleh kasih panduan dikolom komentar.

Berdasarkan panduan kami yang hilang di terminal Bungur Asih ada bus Damri yang bisa sampai ke Terminal Sukoharjo kalo tidak salah ingat dan bayaranya 50 rb perorang.

Dengan menggunakan mobil carteran, akhirnya kami sampai diterminal Bungur Asih lanjut naik bus. Dalam hati nih ya pas lihat busnya.....

Beda nih sama panduan...he..he..he......
Namun tidak sempat berfikir karena kami merasa diburu - buru sama poter diterminal, tapi kami bawa senyum saja dan naik bus......ha...ha...ha...Bismillah

Tentu saja banyak yang jualan masuk dalam bus sebelum bus brangkat. Jualan makanan, minuman, mainan dan lain - lain. Hingga akhirnya brangkat.

Kendek bus bertanya mau kemana tujuannya dan kami bilang tujuannya terminal sukoharjo, lalu kendek pun menjawab okeh. Brarti sudah dealkan ya.

Perjalanan berlanjut lumayan lama mungkin 1 jam lewat.

Ternyata kami sampai terminal.

Harusnya dipemberhentian itu ada Damri tapi ternyata tidak ada. Ya sudah karena sebelumnya kami berasa buru - buru akhirnya semua tawaran diterminal kami tolak dulu saja. Biar kami tidak merasa diburu - buru dan bisa membuat kami mikir dan makan untuk isi perut.

Alhamdulillahnya diterminal ada bakso dan nasi rawon. Bakso malangnya murah banget dan enak. Jadi lumayan kami makan - makan dulu bakso sampai nambah lagi. Maklum kami penyuka bakso. Karena sukanya itu makan bakso sayapun ada catatan kisah makan bakso disini Godaan Bakso.

Setelah kenyang dan agak santai akhirnya kami bisa berfikir lagi tidak merasa diburu - buru oleh petugas terminal yang mungkin biasa dibilang poter atau calo. Maaf kalo salah.

Diterminal damri yang dicari tidak ada, akhirnya kami coba cari grab saja biar lebih gampang. Dapat grab, tapi ternyata tidak bisa masuk dan tidak boleh masuk terminal. Kami harus berjalan keluar terminal dulu.

Dengan polosnya kami keluar dari terminal supaya dapat grab. Hasilnya eh masih tidak bisa, infonya masih zona merah, grab masih saja tidak bisa masuk. Infonya masih harus berjalan lagi kaluar zona merah grab. Setelah diskusi dengan paman grabnya via cet, akhirnya kami batalkan saja pesanan grabnya.

Tidak berapa lama ada emang - emang travel yang menawarkan angkutan menuju tujuan. Kami ngobrol dan tawar menawar harga. Karena harganya beda sedikit dengan harga Grab yang kami pesan. Ok saja kami terima.
Oia untuk tawar menawar memang Istri itu jagolah.

Catatan penting disini adalah mending menggunakan travel seperti ini jika traveling tanpa pemandu seperti saya dan untuk harganya lihat panduan aplikasi angkutan online seperti grab, gojeg dll saja. Lebih mahal dikit tidak apa - apa.
Masalahnya bukan saat berangkat, tapi saat nanti kembali. Biasanya tidak ada angkutan online. Jadi jika berangkatnya menggunakan angkutan online jangan lupa tanyakan no hp nya. Tujuannya saat nanti kembali telpon saja minta jemput tapi harus deal - dealan dulu harganya. Paling tidak samakan dengan harga pas berangkat.

Akhirnya kita brangkat menggunakan emang - emang yang menawarkan jasanya tadi ke tujuan yaitu penginapan di area Bromo. Lagi - lagi penginapan ini adalah hasil kami serching dari media sosial. Tapi Alhamdulillah enak banget. Kali ini panduannya betul. Yang bertanya kamarnya ada AC atau tidak, mending bertanyanya ada penghangat atau tidak. Setiap sudut Asli dingin tak perlu AC. Bagi yang biasa tiggal di Jakarta, Surabaya, Banjarmasin, Bahkan di Bandung atau Batu pun ditempat kami menginap masih jauh lebih dingin. Asli.

Sore hari kami baru sampai penginapan yang kami pesan sebelumnya. Ahamdulillah. Kami memesan kamar utama. Pesin online duluan lebih murah. Dan memang tidak bisa pesan langung harus online via aplikasi.

Pokonya dipenginapanpun seru ternyata. Suasanya tanang, tentram, dingin, tidak banyak suara mulut rombeng. Pegunungan, pertanian, jalan, pemandangan, makan dan banyak banget yang lainnya. Alhamdulillah, Masya Alloh kami diberi keseruan lagi disini.
Dan sepertinya perlu cerita husus dipenginapan jika ingin tahu kisahnya.

Menuju Bromo

Dari Ibu pemilik dipenginapan kami mendapatkan kontak sewa mobil ZIP menuju bromo. Kami terkejut lebih murah daripada yang diinformasikan online. Kami sewa privat hanya kami saja dan harganya murah gaes dibanding informasi online. Kata online 400 perorang kami dapatnya 600 sudah semua seharian.
Kalo dihitung perorang berdsarkan info online kami ber-5 tentu saja 2 jt. Tapi tidak seperti itu ternyata hanya 600 rb saja. Alhamdulilah lagi.

Sama Mamang Zip nya kami diberikan 3 jadwal perjalanan dan 5 destinasi yang akan didatangi. Wow..... Banyak lumayan juga.
Jadwal berangkat jam 2, jam 3, dan jam 4 Subuh.

Karena kami membawa anak kecil umur 5 tahun disarankan berangkat yang jam 4 subuh. Anak kami yang sulung inginnya yang jam 2 tapi karena melihat anak kami yang bungsu akhirnya brangkat yang jam 4 dan nego setalah solat subuh. Tentu saja solat subuh wajib dan harus didahulukan daripada foto sunrise. Betul kan gaes....

Cara biar dapat keduanya ya solat subuh dulu saja baru kita lanjutkan.

Tenyata simamangnya juga solat subuh dulu juga di Mushola penginapan.

Akhirnya setelah solat subuh kami berangkat. Tak lupa kami mengenakan jaket dan sarung tangan karena terasa dingin sekali. Inilah lasannya mengapa menyarankan yang jam 4. Jika jam 2 subuh akan jauh lebih dingin.

Tujuan atau destinasi pertama yang kami tuju adalah spot foto pananjakan.

Spot Foto Penanjakan

Untuk menuju spot foto tidak bisa menggunakan mobil zip, kami harus jalan. Zip menunggu diparkiran dan kami berjalan. 

Kami ditawari untuk naik ojek tapi kami melihat pemandangan yang indah. Kebetulan bulan purnama dan bulan tepat diatas gunung Batok. Jadi kami menikmati jalan dan berfoto foto.

Selanjutnya kami akan sajikan foto - foto untuk menambah kesan saru dalam perjalanan kami.

Langkah kamipun mulai naik ketempat yang lebih tinggi sampai bulannya terlihat disamping gunung batok. Jika kita ukur sekian derajat bulan itu berpindah, artinya sekian puluh mater kami sudah bergeser.

Dari tempat ini kami masih harus naik sedikit lagi supaya pemandangan lebih luas lagi. Tentu saja foto - foto dulu.

Makin lama kami naik dan berada diarea spot foto, matahari mulai menyinari puncak gunung batok dan gunung bromo.

Pamandangan semakin dramatis indahnya. Tapi orang - orang yang berkumpul semakin banyak. Area foto semakin sempit gaes. 

Pikir kami tentu saja tidak apa - apa yang penting menikmati keindahannya dan foto -foto.
Kini warna gunung menjadi 2 warna. Muncul warna merah pada bagian atasnya, gunung Batok dan Gunung Bromo memerah pada puncaknya. Masya Alloh..
Sungguh luar biasa. Masya Alloh.....

Paling tidak kami mendapatkan 3 momen disini.

Momen bulan purnama berada digunung batok, momen tanpa bulan purnama dan momen dua warna dimana matahari mulai menyinari gunung bromo dan gunung batok.
Masya Alloh. Ke-Agungan yang Maha Kuasa menciptakan pertujukan yang luar biasa. Orang rela berdesak - desakan untuk menyaksikannya. Masya Alloh....

Nitip satu foto dulu yang keren disini. he..he... Ceklek.....
Mirip orang penting ternyata. ha..ha..ha...


Akhirnya setelah sekian waktu kami berada di spot pertama. Untuk menyaksikan matahari terbit kami lanjut ke tujuan kedua. Pasir berbisik

Pasir Berbisik Gunung Bromo

Diperjalnan ketika mau masuk ke area yang disebut pasir berbisik kami disambut dengan es. Pasir yang kami injak ber es....

Bagi kami ini adalah momen yang tidak boleh dilewatkan. Belum tentu kami kembali ketempat ini dengan momen yang sama.

Jadi kami foto - foto dulu gaes...

Pada waktu kami datang sudah ada esnya dipasir, pasir - pasir mengeras dan memutih dan terasa dingin. Kedepan mungkin akan makin banyak esnya karena informasinya juli sampai agustus akan sangat dingin.
Masya Alloh kami merasa beruntung merasakannya. Alhamdulillah. Padahal hari sebelunya kata mamang yang bawa zip belum ada esnya.

Setelah puas karena makin banyak yang datang. Kami lanjut ke area Pasir berbisik. 
Inilah tempat berfoto banyak orang menggunakan zip dan naik kuda.
Kamipun tentu saja berfoto - foto dulu.

Informasi yang bisa saya dapatkan disini.
Naik kuda keliling agak jauh 100 rb, keliling dekat 50 rb.
Foto - foto aja 20 rb per orang.
Setelah puas kamipun berpindah tempat menuju destinasi selanjutnya. Yaitu Bukit teletubies. Lumayan lah cukup foto - fotonya di pasir berbisik. Meski sebetulnya banyak yang tidak ditampilkan. Terlalu banyak foto.

Bukit Teletubis

Awal waktu ketika sampai di Bukit Teletubis, mamang yang bawa zip bilang saat ini sedang musim kemarau jadi padang rumputnya tidak begitu hijau. 

Kejadian dulu yang pernah terjadi yaitu kebakaran gara - gara foto frawedding, semua pihat sudah kena denda sekarang sudah tumbuh lagi, namun karena kemarau tampak kurang hijau.

Tapi bagi kami tidak apa - apa, kami cukup senang berada di sini hari ini. Suasana yang berbeda dengan tempat rutinitas kami sehari - hari. Alhamdulillah 

Dan yang paling penting, tentu saja kami tidak lupa berfoto.

Namun setelah kami tahu ada yang lebih penting lagi dari foto - foto yang paling kami suka ternyata ada. Ada tukang bakso. ha..ha..ha..ha.ha..haa....

Pepatah pelancong bromo bilang kalo ke Bromo bakso di teletabus tak boleh dilewatkan. Tentu saja kami setuju bahkan dua tuju. :D. Karena ada bakso jadi lupa foto - foto.


Berhubung ada bakso, sepertinya fotonya lupa naro dimana ya atau lupa ambil foto. Etahlah. Hanya nemu ini saja...........

Tapi tidak mengapa, sepertinya cukup untuk jejak pernah datang ke sini. :D

Setelah puas makan bakso, kamipun lanjut ke destinasi selanjutnya.

Kawah Gunung Bromo Dan Pelataran Gunung Bromo

Saya gabungkan saja. Dibawah kawah Gunung Bromo merupakan area hamparan yang cukup luas seperti halnya area pasir berbisik. Sangat cukup untuk bermain kuda, foto - foto dan lain  lain. Latar belakang foto bisa Gunung Bromo atau Gunung Batok areanya persis saja seperti area pasir berbisik.

Contohnya
Foto diatas latar yang digunakan adalah Gunung batok bukan gunung bromo.

Jika tidak tahan naik menuju kawah gunung bromo rasanya cukup untuk berfoto - foto disini. Namun sensasi naik ke kawah tidak akan dirasakan.

Kamipun sedikit berdiskusi diarea ini, mampu tidaknya naik menuju kawah Bromo. Aman tidaknya bagi kami, mengingat kami membawa anak usia 5 tahun. Tentu pasti akan banyak minta bantuan seperti harus digendong.

Setelah diskusi, akhirnya kami putuskan untuk mencoba naik sampai puncak. Pada awalnya jujur saja saya ragu tapi karena merekalah akhirnya bisa sampai di puncak. Ahamdulillah

Sebetulnya ada beberapa opsi untuk naik sampai kawah, pertama naik kuda sampai tangga kawah. Dan untuk naik tangga diatas menuju kawah ada ojek gendong untuk anak - anak 5 tahun. Tapi kami pikir kita pelan - pelan saja naiknya jika tidak kuat kembali saja. Dan Alhamdulillahnya kami sampai dipuncak.

Inilah yang membuat saya terharu, ketika kita saling menguatkan dan saling bekerja sama rintangan besarpun bisa kita lewati. Anak - anak dengan kepolosannya mengutarakan ide - idenya yang tampak berat, ternyata memiliki keyakinan bahwa kita bisa dan harus mencoba, istri mensuport semuanya, dan saya tetap dengan logika kewaspadanya dan tentu tidak lupa berdoa. Masya Alloh rintanganpun bisa diselesaikan dengan baik dan aman. Alhadumulillah.


Dipuncak kawah agak sulit mengambil foto bersama mengingat areanya sempit dan banyak orang yang naik. Jadi foto yang ada di hp saya hanya ini saja. 

Setelah puas dipuncak ada beberap fakta yang kami dapatkan selama dipuncak

1. Tempatnya kurang luas saat orang banyak yang datang
2. Ternyata bau kentut :D

Dan ada satu pelajaran yang saya dapatkan ketika berada dipuncak. Ketika kita sudah mencapai puncak, maka 2 pilihannya tetap disana atau segera kembali untuk menuju puncak yang lainnya.

Jika dipikir memeng betul dalam kehidupan ini ya. Pada akhirnya apapun itu kita harus meninggalkan puncak itu untuk menuju puncak - puncak yang lainnya jika kita mau terus bergembira. Coba aja bayangin untuk apa terus berada dipuncak Bromo yang teryata bau kentut. 

Setelah puas dipuncak kamipun turun. Tentu saja turun dari puncakpun memiliki tantangan tersendiri. Tidak jarang orang terpeleset justru saat turun gunung. Merasa ringan akhirnya tubuh dibawa tarikan gravitasi hingga akhirnya terpelset. Turun gunung bukan brarti lebih mudah, ia hanya memiliki tarikan gravitasi yang bisa menarik kita menuju celah - celah yang mematikan. Kita harus tetap waspada.

Oi satu hal yang perlu diinformasikan adalah, disana berdebu. Oleh karena itu kami menggunakan masker. Banyak kuda yang lewat, orang lewat, angin kencang akhirnya debu membumbung. Jadi perlu masker.
Pada titik ini saya kaget dengan kemampuan kami, ternyata kami hebat. Kami mampu menaklukan rasa takut kami. Banyak hal yang kami takutkan sebelumnya namun ketika dijalani Alhamdulillah lancar dan biasa saja tidak seperti yang kami takutkan sebelumnya. Semangat!! Alhamdulillah

Sekian dulu catatan KangRozak kali ini. Dan masih bersambung pada catatan yang lainnya.
Wassalamualakum Wr Wb.

Pada titik ini saya kaget dengan kemampuan kami, ternyata kami hebat. Kami mampu menaklukan rasa takut kami. Banyak hal yang kami takutkan sebelumnya namun ketika dijalani Alhmadulillah lancar dan biasa saja tidak seperti yang kami takutkan sebelumnya. Semangat!!

Posting Komentar untuk "Liburan Ke Bromo Tanpa Open Trip Ala Kang Rozak"